Lampung, pamungkasindonesia.id – Rapat paripurna pemandangan umum fraksi-fraksi DPRD Provinsi Lampung terhadap Raperda Perubahan APBD Tahun Anggaran 2025, Selasa (12/8), kembali memperlihatkan pemandangan yang memalukan. Di tengah pembahasan serius soal anggaran daerah, sejumlah anggota dewan justru tertidur dan asyik bermain ponsel, sementara kursi Organisasi Perangkat Daerah (OPD) banyak yang kosong.
Rapat yang dipimpin Ketua DPRD Lampung dan dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Marindo Kurniawan, mewakili Gubernur Lampung, hanya dihadiri 24 anggota dari total 85 legislator.
Bahkan, anggota Fraksi PAN, Yusirwan, terlihat tertidur pulas saat juru bicara Fraksi Gerindra, Fauzi Heri, menyampaikan pemandangan umum. Beberapa anggota lain pun lebih sibuk menunduk menatap layar gawai ketimbang memperhatikan jalannya rapat.
Pengamat pemerhati publik Benny N.A Puspanegara menilai pemandangan ini menunjukkan rendahnya komitmen anggota dewan terhadap tugas pokoknya.
“Mereka dibayar dari uang rakyat untuk bekerja, bukan untuk tidur atau main HP di ruang sidang. Kalau rapat anggaran saja tidak dianggap penting, bagaimana bisa rakyat berharap banyak?” tegasnya.
Bahkan ia menyebut fenomena ini sudah menjadi “tradisi buruk” di DPRD Lampung. “Fenomena kursi kosong, anggota datang terlambat, tidur, atau sibuk sendiri sudah terlalu sering. Sayangnya, tidak ada sanksi tegas. Inilah yang membuat citra lembaga ini di mata publik semakin merosot,” ujarnya.
Rapat kali ini membahas evaluasi postur anggaran daerah, termasuk penyesuaian belanja dan proyeksi pendapatan 2025. Namun, suasana ruang sidang jauh dari kesan bahwa pembahasan ini benar-benar diprioritaskan oleh wakil rakyat. Publik pun kembali bertanya-tanya: apakah suara dan kepentingan masyarakat benar-benar diperjuangkan di gedung dewan ini?. (*)
















